Jadi apa anak anda nanti? tergantung yang anda lakukan saat ini
Okehhh... sobat, di saat saya menulis ini saya sedang sangat bosan dan tak bersemangat sekali. Tapi saya sapihkan hal itu karena di opinionship ini adalah saatnya kita saling memberi sesuatu kabar, berita ataupun yang paling sering kita akan nasehat menasehati, baik saya menasehati ataupun anda menasehati saya, tapi ingat perbuatan ini hanya saling memberi opini atau nasehat saja sementara penerimaan kembali pada kita, ambilah yang bila itu benar dan buang jika itu salah. Namun hati-hati ketika anda membuang yang benar anda bisa celaka hahahahaa...
Oke, aapa yang akan pertama sekali kita bagi yah ini dia
Jadi apa anak anda Nanti?
Ya, apa artinya pertanyaan ini, secara umum sejak 15 tahun terakhir ini pemerintah berhasil menjadikan pola pikir masyarakatnya langsung spontan tertuju pada pendidikan apa untuk anak-anaknya, ya ktika anak telah mencapai usia 6, 7 tahun yang trfikir di benak adalah TK, SD dan selanjutnya kemana SMP, SMA sederajat, setelah itu kemana? kuliah, beragam kejuruanlah yang di usahakan. Terus jadi apa? kebanyakan ingat ya kebanyakan, yahh... maasih bersabar dengan ijazah meski akademis yang lumayan namun keberuntungan masih belum di raih artinya kepuasan dari perjuangan sejak pertama sekolah TK, SD sampai selesai masih belum sepuas dengan yang kita inginkan, dibalik kisah ini apa yang tersirat di dalamnya adalah siapa yang membuka jalur itu semua sementara ternyata kesuksesan itu tetap keputusan mutlak sepertinya.
Ok, tidak perlu bertele-tele lagi mungkin bagi yang cepat bosan membaca akan ngantuk hehe...
begini, sebtulnya secara umum di dunia pendidikan umum pula, tidaklah secara khusus mengajarkan untuk sukses alhasil banyak yang mengatakan percumah selama ini yang di lakukan kesuksesan belum di raih, akhlakpun atau tabiat tidak jamin jadi terbentuk. 13, 15 tahun belajar apa yang menonjol? setatus, ya secara umum pandangan publik hanya menilai dia berpendidikan itu jelas, hal yang lebih pribadi tidak ada yang tahu.
Baik, lalu apa Jalur lain selain seperti yang diatas?
Sebenarnya ada model sederhana dan sedikit lebih cepat dan mudah, apa itu? awal jalan pertama dari orang tua, bisa di buktikan beberapa orang yang tidak melalui jalur pendidikan biasa, yaitu:
1. mendidik anak dengan sabar
ini biasa di lakukan orang tua dengan mengisolasi anak dari dunia luar yang merugikan, untuk menjadikan anak yang sabar, baik, ramah, rajin, mereka sebagai orang tua sebagai contoh atau model, maka ketika menghadapi anak bukan dengan emosi, kasar, kata-kata tak senonoh pada anak yang belum mengerti itu adalah hal yang salah, justru bersikap baik, sabar, tutur kata yang baik pula, maka anak akan lebih baik, sabar dari orang tuanya.
2. mendidik anak yang sholeh dengan menanamkan akidah yang benar dan lurus
mereka mendahulukan pendidikan pemahaman akidah benar terdahulu untuk mempersiapkan anak yang sholeh dan sholeha.
3.memasukan ke pendidikan agama dalam pesantren yang tepat
ya, ada banyak pesantren, tapi hati-hati juga mengenai pemahaman yang di anut pesantren itu. Untuk ini lebih kita bahas untuk orang tua yang ilmunya sudah mulai butuh orang yang punya pemahaman lebih dalam, setelah di berikan pemahaman dasar akidah di tahap 2 dia atas.
4. setelah masa pendidikan selesai bisa di fasilitasi kursus-kursus keahlian,
5. mengajarkan dan mengenalakan keahlian yang dia inginkan atau yang dimiliki orang tuanya,
6. memberi bekal materi untuk memulai keahlian anak menjadi peluang jika orang tua memiliki materi yang cukcup.
